Aku pernah berjanji menuliskan sesuatu untukmu, Zy
setelah sepekan kita saling menuliskan sajak di langit biru tua
ya...hampir tiap hari.
Sampai akhirnya ada temu di setiap rindu yang sempat berjejelan dikepala kita
Tak disangka ya, Zy.
ternyata tak ada gugup hingga waktu menguning
bahkan senja menyaksikan deraian tawa renyah seumpama suara reranting patah.
juga hati kita yang rusuh di gelas kopi,
menutup kesunyian dibalik riuhnya hujan seadanya.
lalu kau memainkan alat musik bambu dengan senar tali pancing kesayanganmu
lantas kata-kata berloncatan dari bibirmu
menambah gemuruh jantungku semakin tak beraturan
sesekali senja membuat kita mencuri hangat pada jemari kita yang terkesan malu untuk saling berpagut.
Detik jam terasa semakin cepat
langit sudah berubah warna
siluet cahaya jingga kau endapkan di matamu
hingga tak kuasa aku menoleh kearahmu,
aku hanya takut, Zy...
takut setiap kali aku mengingatnya, aku akan gelisah dirasuki bayang-bayang bening matamu
kau ingat, Zy...
sepasang tanganku yang melingkar di pinggangmu?
dan anehnya aku merasa betah menikmati gigil dingin yang merangkaki udara seusai hujan.
Saat langit berubah keabu-abuan
kita berjalan beriringan mencipta tapak kenangan yang mungkin kelak bisa kita bagikan
banyak kata yang tak bisa diucapkan,
juga rasa yang tak bisa di ungkapkan.
Aku hanya ingin menjadi bagian dari setiap tombakan hujan, dedak di kopimu, atau lirik di setiap lagu yang kau ciptakan.
Aku wanita peramu kata, sedangkan kau lelaki pecinta suara,
barangkali kau akan menemukanku diantara rindu-rindumu yang tersasar; kelak,
atau mungkin akan hanya menjadi kenangan yang karam di ingatanmu
Seumpama lembaran-lembaran sajak yang kehilangan aksaranya
setelah sepekan kita saling menuliskan sajak di langit biru tua
ya...hampir tiap hari.
Sampai akhirnya ada temu di setiap rindu yang sempat berjejelan dikepala kita
Tak disangka ya, Zy.
ternyata tak ada gugup hingga waktu menguning
bahkan senja menyaksikan deraian tawa renyah seumpama suara reranting patah.
juga hati kita yang rusuh di gelas kopi,
menutup kesunyian dibalik riuhnya hujan seadanya.
lalu kau memainkan alat musik bambu dengan senar tali pancing kesayanganmu
lantas kata-kata berloncatan dari bibirmu
menambah gemuruh jantungku semakin tak beraturan
sesekali senja membuat kita mencuri hangat pada jemari kita yang terkesan malu untuk saling berpagut.
Detik jam terasa semakin cepat
langit sudah berubah warna
siluet cahaya jingga kau endapkan di matamu
hingga tak kuasa aku menoleh kearahmu,
aku hanya takut, Zy...
takut setiap kali aku mengingatnya, aku akan gelisah dirasuki bayang-bayang bening matamu
kau ingat, Zy...
sepasang tanganku yang melingkar di pinggangmu?
dan anehnya aku merasa betah menikmati gigil dingin yang merangkaki udara seusai hujan.
Saat langit berubah keabu-abuan
kita berjalan beriringan mencipta tapak kenangan yang mungkin kelak bisa kita bagikan
banyak kata yang tak bisa diucapkan,
juga rasa yang tak bisa di ungkapkan.
Aku hanya ingin menjadi bagian dari setiap tombakan hujan, dedak di kopimu, atau lirik di setiap lagu yang kau ciptakan.
Aku wanita peramu kata, sedangkan kau lelaki pecinta suara,
barangkali kau akan menemukanku diantara rindu-rindumu yang tersasar; kelak,
atau mungkin akan hanya menjadi kenangan yang karam di ingatanmu
Seumpama lembaran-lembaran sajak yang kehilangan aksaranya