Jumat, 07 Maret 2014 - 0 komentar

Kelopak Sakura Layu di Wadah Bento

Tokyo, 2010

Kita kehabisan nafas untuk saling bercengkrama tentag sunset di atas gedung Kota Yokohama
ataupun ber-Hanami bersama menghabiskan bento pada musim sakura di taman Shensinan Kyoto.
Tiba-tiba saja setangkup kenang masih kita bawa dikepala masing-masing
lantas kau hilang di persimpangan jalan
seumpama kelopak sakura yang putus asa
terhuyung-huyung jatuh pada tanah basah
: dan aku tak memungutinya, tak mencarimu lagi.

Majalengka, 2011

Sudah satu tahun, kau tetap muncul di setiap bayang-bayang semu yang selalu ku coba untuk menutupnya
kita sudah berlainan; tanpa pesan
aku sudah nyeri
maaf, ku abaikan kau berkali-kali

Majalengka, 2012

Ah... apa maumu?
Telingaku tuli mendengarmu kembali
begitu pula mataku, ia sudah buta melihat wajahmu
akupun sudah asik dengan sajak yang ku guratkan di tubuh lain
setelah beberapa bait haiku yang ku ciptakan untukmu kau basuh dengan air hujan di senja Tokyo musim lalu
hingga tintanya menggenang di mata kaki
sajak-sajak ku kini rampung di sekujur tubuh pria lain
setiap kali ku membacanya, tiap kali pula aku kehilangan ingatan tentangmu
jadi, apa lagi yang kau tunggu?
aku benar-benar sudah lupa

Majalengka, 2013

Aku lebih banyak lupa
dan kau, masih menarik-narik memori agar aku menoleh kearahnya
seharusnya kau tau; kuncup sakura sedang mekar di pohon yang lain.

Majalengka, 2014

Malam hanya seutas sepi yang bergelantungan di wajah-wajah buram
hanya tarian dari kepulan teh hijau hangat pada cangkir yang retak di bibirnya
mungkin, sunyi begitu meronta-ronta di dadaku
setelah akhir tahun lalu sajak-sajak ku padam
larut bersama musim hujan yang meriuh
hasilkan telaga aksara yang acak.
Kau datang legi,
begitu rutinnya, hingga aku bosan mengenalmu sebagai seseorang yang tak asing lagi.

: baiklah, aku menyerah, Koichi...
apa yang ingin kau sampaikan?

lantas kau menjawab : "Putuskan Aku"

Seranum sakura melintas di penciuman
ku buka wadah bento empat tahun lalu
lembaran kelopak layu tertinggal disana
pergilah...
maaf, aku lupa membuangnya.
- 0 komentar

[Hampir] Patah Hati

Masih tentang kamu, Zy...
hampir tiga pekan aku mengenalmu
dan tiga kali pula ku tengok almanak di dinding kamar dengan tanggal-tanggal hitamnya yang semakin menua
sejak temu singkat dibawah langit jingga lalu
sudah setengah laman kutulis sajak tentang dirimu
sampai akhirnya kutau,
setiap kata yang kutulis hanyalah menjadi gerimis yang jatuh di telapak tanganku
lalu lenyap menguap di lesung langit
menjadi pelangi yang hanya bisa ku lihat sendiri

Malam kedua stelah pertemuan itu
langi sunyi terlecut kabut malam kalut
suaramu menjadi desas desis angin dingin ditelingaku
kita bicara seakan lidah kita kaku
masing-masing memaknai kata yang terucap kelu
sesekali menelan udara resah yang melesap pada keheningan yang semakin membeku
suaraku tertohok di tenggorokan saat rindu terkibas menjadi sendu

Dan kau, Zy...
Hanya bisa menghitung gerakan dada dari setiap nafas yang ku hembus percuma; sajak-sajakku telah kehilangan separuh tentang dirimu.
Aku tak pernah bosan mempertahanken hangat dirimu di sekat jantungku, namun katamu ini hanya rasa yang mengganggu; kau ucap lirih seumpama lagu kematian di ujung pelepasan
lantas kita saling terdiam, dan begitu terasing

Tak apalah, Zy...
Setidaknya kita pernah sama-sama menahan rasa rindu,
walaupun pada akhirnya tak melulu menggebu
saat sisa-sisa temu hanya menjadi remang-remang lampu.
- 0 komentar

Segelas Hujan

Aku pernah berjanji menuliskan sesuatu untukmu, Zy
setelah sepekan kita saling menuliskan sajak di langit biru tua
ya...hampir tiap hari.
Sampai akhirnya ada temu di setiap rindu yang sempat berjejelan dikepala kita

Tak disangka ya, Zy.
ternyata tak ada gugup hingga waktu menguning
bahkan senja menyaksikan deraian tawa renyah seumpama suara reranting patah.
juga hati kita yang rusuh di gelas kopi,
menutup kesunyian dibalik riuhnya hujan seadanya.
lalu kau memainkan alat musik bambu dengan senar tali pancing kesayanganmu
lantas kata-kata berloncatan dari bibirmu
menambah gemuruh jantungku semakin tak beraturan
sesekali senja membuat kita mencuri hangat pada jemari kita yang terkesan malu untuk saling berpagut.

Detik jam terasa semakin cepat
langit sudah berubah warna
siluet cahaya jingga kau endapkan di matamu
hingga tak kuasa aku menoleh kearahmu,
aku hanya takut, Zy...
takut setiap kali aku mengingatnya, aku akan gelisah dirasuki bayang-bayang bening matamu
kau ingat, Zy...
sepasang tanganku yang melingkar di pinggangmu?
dan anehnya aku merasa betah menikmati gigil dingin yang merangkaki udara seusai hujan.

Saat langit berubah keabu-abuan
kita berjalan beriringan mencipta tapak kenangan yang mungkin kelak bisa kita bagikan
banyak kata yang tak bisa diucapkan,
juga rasa yang tak bisa di ungkapkan.
Aku hanya ingin menjadi bagian dari setiap tombakan hujan, dedak di kopimu, atau lirik di setiap lagu yang kau ciptakan.
Aku wanita peramu kata, sedangkan kau lelaki pecinta suara,
barangkali kau akan menemukanku diantara rindu-rindumu yang tersasar; kelak,
atau mungkin akan hanya menjadi kenangan yang karam di ingatanmu
Seumpama lembaran-lembaran sajak yang kehilangan aksaranya

Minggu, 02 Februari 2014 - 0 komentar

Antologi Puisi 4 [oleh : Cj Levi]



HENING

Hening...
Tik tak tik tak
Jam berdetak
Grasak grusuk
Tikus tikus lubangi kardus
Krik krik
Jangkrik berderik

Hening...
Angin sepoi
Langit gemintang kerlap kerlip
Bulan bulat seputih susu menggantung anggun di angkasa
Malaikat bertebaran kunjungi jemari lentik yang berdzikir
Pancarkan cahaya dari tangan yang tengadah

Hening...
Mata terkantuk kantuk
Lelah meringkus, terbaring pada punggung yang mulai renta
Setiap nafas adalah doa
Sebelum mata terpejam menagih kematian
Sambut esok hari yang mungkin saja
Hening, selamanya.

PANAH SRIKANDI

Panah Srikandi menjunjung tinggi ke angkasa
Menantang Bisma relakan jantung dipanah busur
Samar samar Bisma tatap molek Amba
Tergolek lesu mencecap aroma bunga padma

Oo... Srikandi
Bunga tumbuh dari genangan darah Kurusetra
Wanita perang molek nan perkasa
Nanar Bisma terpesona
Sang Mahawira linglung dimabuk jiwanya
Hikayat hanyalah menjadi memoria
Robohlah Bisma terhempas ke tanah

Oo... Mahawira jagat pewayangan
Kini benar benar tak berdaya
Ribuan panah Srikandi menancap tubuhnya
Jatuhlah bulir bulir air dipucuk matanya
“Maafkan aku Amba”
Ucap Bisma lirih tak berdaya.


SECANGKIR KOPI MALAM

Berselimut cangkir keramik bertuliskan “Coffee”
Sang penari balet meliuk liuk dari kepulan yang bertengger dikepalanya
Terkadang membentuk kata kata serupa bait bait aksara
Dari sebaris cahaya temaram lampu malam
Atau pada gigil pagi dari dekapan jemari.

Satu cangkir penenang
Satu cangkir hilangkan kantuk
Satu cangkir sejuta kenangan

Denting sendok leburkan pahit
Gula gula berpelukan menjadi kisah manis yang romantis
Ramalkan nasib pada ampas didasar cangkir
Harapkan cemas hilang tandas.


KEPADA ANAK KECIL BERKAKI KECIL

Kaki kaki kecil berlari lari kecil
Menentang buku leces berwarna ungu

Seragam putih ke kuning kuningan
Beralas capit dengan simpul rapia di ujungnya

Anak kecil berparas mungil
Bulan sabit melengkung di bibirnya

Bersuka-ria hanya dengan mewahnya udara yang di hirupnya
Warna warni dunia tergambar pada selaput pelangi di matanya

Indonesia sudah Merdeka anakku
Hidupmu yang carut, kau tak pernah cemberut

Sampai kapan kau terpasung di tengah mewahnya kekuasaan modern?
Sampai kapan keringatmu menafkahi dirimu sendiri?
Lantas, siapa yang peduli?


SESAL DIRI


I/
Malam gelisah
Sinar bulan brjuang menembus liang liang jendela ; berupaya mengintip
Bohlam lima watt sinari tubuh tubuh telanjang
Sepasang insan terlihat abstrak diantara remang lampu
Rambut kusut jatuh membentuk spiral di punggung penuh peluh
Adrenalin membanjiri pembuluh darah
Memcecerkan bulir bulir basah
Dengan wangi menyenangkan
Benih tertanam sempurna

II/
Celaka
Perut membuncah, ada nafas baru di dalamnya
Janin yang tak berdosa mengintip dunia dari liang pusar induknya
Janji setia hanya menjadi tugu kenangan
Yang rapuh ditinggal waktu yang membusuk
Suara kecil terngiang di telinga sang puan
“Dimana Ayahku, Bu?”
Sang puan menjerit tertahan; “Maafkan aku Tuhan!”


NASIB HAMBA SAHAYA

Bu...
Jangan rindu ya,
Rindumu menyayat kalbu
Aku disini baik
Meski panas setrika sempat menembus jantung
Anggap saja itu tatoo terindah yang pernah dibuat

Peluhku berubah darah, Bu..
Tapi aku baik
Darah ini dicampur jus tomat
Rasanya manis campur nyinyir

Punggungku alas kaki, Bu..
Setidaknya sepatu mahal, kulit buaya, kulit unta atau kulit ular berbisa
Membekaskan kelopak bunga anyelir berbentuk tinjuan merah jambu

Aku baik, Bu..

Ranjangku megah
Aku tidur bersama anjing anjing kesayangannya
Terkadang mereka menari diantara gigil dan gemeretak gigiku
Yang mereka anggap sebagai kolaborasi suara musik acapella

Aku pasti pulang, Bu..
Jangan dulu mencari lahan kosong untuk pembaringanku
Kamar pengantin masih menantiku.


SEPUCUK PESAN KEHILANGAN

Sayang,
bagaimana mengucapkannya
Dingin kali ini melumerkan keberanianku
Ia membendung di tenggorokanku
Suaraku tetiba kering, sulit memulainya.

Sebaiknya,
Pulanglah pada ruh cintamu
Aku hanyalah tulang rusuk
yang memaksa masuk di sekat sekat dadamu
aku tau, sebenarnya bukan aku nafas yang kau hembus
aku tau semuanya, sayang.

Namun salahkah jika selama ini aku berlaku dungu?
Ketika sepasang tanganmu bukan untukku
Atau jari manismu yang sudah terlingkar janji
Yang setiap kali mendesis desis seperti medusa
dan berusaha membekukan tubuhku
saat kau lingkarkan tanganmu di pinggangku

aku menyayangimu,
namun aku bukan dia.

Parau tangisku menentang nestapa
Namun biarkan aku tersenyum bahagia
Pada luka yang menganga.


PADA MALAIKAT BERHATI BANGSAT

Gigi gemeretak
Anjing anjing liar menyalak galak
Sang iblis bertengger di kepalanya
Panas membakar, membuncahkan isi kepala
Kidung malam menyayat nyayat isi dada
Telantarkan saja aku menjadi budak hamba sahaya !
Tampar pipi ku biarkan darah mengalir dari mulutku
Dan sesap oleh nafsumu yang membuncah
Robek dadaku buraikan isi di dalamnya
Lempar pada anjing liar yang kelaparan
Semangatku luntur, Tuan
Kau hancurkan segala harap menjadi siksa yang menderap
Ikostensimu berlebihan, bias munafik tertata apik
Mulut manismu terkontaminasi ampedu
Dengan rasa pahit yang paling pahit
Sesalpun percuma
Aku hanya sang puan
Yang buta melihat malaikat berhati bangsat


CERITA RINDU PADA SENJA

Matahari mendadak hilang
Ntah apa yang menelannya
Sekejap ia melesat bertransfortasi menjadi cahaya jingga
Mengantarku pada senja yang berwarna

Sore yang sempurna
Siluet jingga mengalir masuk ke beranda
Pantulkan cahaya yang mengkristal
Dari secangkir kopi diatas meja
Kepulannya turut gerak dengan rindu
Yang berburai

Aku tenggelam diterbangkan angan
Kenangan menyusup di setiap tegukan
Melanglang pada waktu yang kutunggu
Untuk besok bertemu denganmu
Menghapus jemu.


AKU PENYIAR BUKAN PENYAIR APALAGI PENYIHIR

Kata kata meluncur dari lidahku
Bermain main dengan intuisi dan imajinasi
Mengukir sebuah aksara menjadi tema yang ceria
Biar suara saja yang kau dengar, jangan hatiku apalagi wajahku
Nikmati saja setiap kata yang kutitip pada bunyi
Tapi ingat,
Aku penyiar, bukan penyair

Ku racik semua sendu kedalam senandung rindu
Mengikis segala hasrat yang tersirat dalam benak
Menyihir waktu menjadi lagu
Menghipnotis suaraku
menjadi bayangan perempuan lugu
Tapi sekali lagi ingat
Aku penyiar, bukan penyihir.

Temanku hanyalah mikrofon, mixer dan perangkat audio
Yang terbiasa denganku,d engan suaraku, bahkan dengan tangisanku
yang menginterupsi dibalik lantunan lantunan
Isakan bukanlah alibi untuk tak bahagia
Karena aku penyiar
Perempuan gila yang bermain main dengan intuisinya
Di ruangan kedap suara berlabel “ON AIR”
Jumat, 31 Januari 2014 - 0 komentar

Elegi Kehilangan



Hari ini aku diam-diam mencarimu lagi, ada sebuah ledakan di dadaku yang membuatku belum terbiasa melepasnya, jika tiap hari rindu itu datang meski emosi mengkotaminasi, kali ini rindu itu datang dengan rasa pedih, sakit, sepi, kehilangan kebiasaan yang menjauhkanku dari ruhmu.

Aku sengaja datang lagi, menghentak kaki pada jejak-jejak yng sudah tercipta sebelumnya, berjalan diatas trotoar yang sudah berpuluh kali ku lewati. Namun kali ini benakku penuh dengan ketidaktenangan, seluruh hasratku tumpah dari setiap langkah demi langkah, aku hanya mengikuti raungan-raungan hati yang tetiba mengajakku ke arah sana, kembali berjalan di lorong-lorong sempit, acapkali berpapasan dengan kucing kampung dengan mata yang menyorot ke arahku seolah mencaci maki tak ada rasa malu aku kembali berjalan pada alur ini.

Aku hanya merasa mabuk, aku butuh canduku untuk ku tumpahkan di dada ini, kemudian pintu gerbang itu ku buka, pelan sekali agar gesekan besi yang telah aus itu tidak menimbulkan bunyi, nafasku menyempit, jantungku berdetak kencang, dan satu yang ku inginkan "Aku Ingin Memelukmu" meluapkan gelisah yang menjelma menjadi sesak.
Kunaiki anak tangga satu emi satu, berharap di sisa tangga aku bisa menemukanmu.

Namun...
Kali ini jantungku hangus, semuanya mati rasa, kau tak bisa ku temukan, mungkin waktu sedang tak berpihak padaku dan aku sudah lupa bahwa kita telah berlainan.
Kamis, 16 Januari 2014 - 0 komentar

Mimpi jadi kenyataan




Tahun 2013 ini saya buktikan bahwa saya bisa jadi penulis hehehhe, jangan lupa di order yaa ^^
sekali lagi saya bilang "SEMUANYA BERAWAL DARI MIMPI"

Judul : Bara Dalam Sekam
Tebal: 141
Penerbit: 2A Dream Publishing
ISBN: 978-602-1649-16-9
Harga:Rp. 40.000,- (belum ongkir)
Penulis:
1. @bayangan_malam
2. @jingga_sang
3. @cj_levi
4. @kimalghozali
5. @heriania_nay
6. @mahdi_ns
7. @ririesristia
8. @hanya_taufik
9. @bait_puisi
10. @yuliametha
11. @ginamahdian

Ini adalah buku antologi @bait_puisi yang ke 4. Di dalamnya ada puisi cinta, politik, kemarahan, kerinduan, kekecewaan, dll. Semuanya menarik untuk dinikmati.

Berminat?
Sila order via sms ke 08567257051 atau email ke anungdel1627@gmail.com

dengan format Bara Dalam Sekam - Jumlah - Nama Lengkap - alamat lengkap - kode pos - no hp.

Trims.

dikutip dari blognya >> http://baitpuisi.pun.bz/antologi-4.xhtml
Senin, 24 Juni 2013 - 0 komentar

Antologi Diary (II)



18 Juni 2013
Bulan menetas sempurna, langit terang, namun jejak dingin yang dibawa angin membuatku beku, terbujur kaku.

18 Juni 2013
Gemeretak gigi yang dihasilkan dingin menghasilkan instrumen musik perkusi, kepulan kopi hitam pun menari-nari.

18 Juni 2013
Malam hadirkan sunyi sepi, langitpun terbentang tanpa batas, tanpa awan yang gemawan, dan aku, tanpa kamu yang merindu.

18 Juni 2013
Sebenarnya tak ingin sesunyi ini, aku tak pernah berharap udara malam pengap yang mengusap kulitku, melainkan kamu.

18 Juni 2013
Sayangnya, aku tak bisa merubah diri menjadi burung yang potensial di malam hari, terbang bersama mimpi yang keluar dari cerobong asap rumahmu

19 Juni 2013
Well, tugas selesai, waktunya beradaptasi dengan malam dengan sedikit sentuhan simfoni melankolis dan biji jenitri untuk menghitung biri-biri

19 Juni 2013
Sang puan menekukan kepala di antara kaki-kakinya, sembunyikan tangis yang keluar dari kantung matanya yang menghitam; kelelahan.

19 Juni 2013
Sebab, aku sudah mulai jengah, aku gamang namun tak bisa beranjak, ironisnya hampir menjadi manusia statis yang setia sebagai hamba sahaya.

19 Juni 2013
Ingin mencoba memecahkan kepala memperbaiki syaraf yang salah pada otak kananku, depresi ini terlalu mengintimidasi.

19 Juni 2013
harusnya berguru pada naruto;dengan jurus Oboro Bunshin No Jutsu atau membelah diri seperti Protozoa, selesaikan semua dengan satu hentakan.

19 Juni 2013
(ʃ_⌣̀ )/|| lupa, itu kan dipake sama oboro, mubi dan kagari, oke, hampir mirip, Kage Butsin No Jutsu, boleh pake alasan Typo?! Haha

19 Juni 2013
bermeditasi bersama bulan, melebur dengan bunyi binatang malam yang ritmenya tak beraturan; aku dan alam.

19 Juni 2013
aku memadukan setiap warna didepanku, rindu yang kebiruan, cemas yang ungu, kombinasi anehpun tercetus, mataku terkontaminasi

19 Juni 2013
Siluet cahaya bulan yang suram, mengalir menembus celah-celah atap, suara bulan menina bobo kan tertangkap, aku pun terlelap

19 Juni 2013
Sebentar, kau tunggu aku sampai pada mimpimu, seburuk apapun itu tunggulah aku, malam ini milikmu selama engkau mau.
Selamat tidur kesayangan.

20 Juni 2013
Tuhan tau, aku berada dalam posisi sulit, kanan-kiri menghimpit, aku terjepit, dan aku mengabdikan diri pada si sakit.

20 Juni 2013
Aku masih muda, kulitku sehalus sutra, namun teriakanku menggila, saat cermin berdusta, tubuhku penuh luka-luka menganga.

20 Juni 2013
meninggalkan sesuatu yang lebih penting untuk yang terpenting, situasi terburuk pun dengan sarkas nya tergelak menertawakan, sialan !

20 Juni 2013
tanggalkan saja hatimu, biar kucumbui ia disini, buncahkan ego yang merajai, membiarkanmu tak berhati selama kau pergi.

20 Juni 2013
Diam-diam aku butuh kafein, merindukan aroma kopi hitam dalam jerit kesunyian yang semakin mengerang.

20 Juni 2013
Kopi hitam bergumul dengan aliran darahku, aku terejam, menikmati ektase mistik dari setiap tegukannya.

20 Juni 2013
dihinggapi juga siluman anjing, sang iblis bercengkrama di dalam otakku menggolakan darah mengalir pada nadi yang berdenyut menggonggong.

21 Juni 2013
Selamat pagi dunia dalam temaram kebiruan, selamat menjalani hari.

21 Juni 2013
Mau coba bongkar kebiasaan lama, senikmat apa sih?
Selamat ngopi siang

21 Juni 2013
Otakku belum bisa berfikir jernih sebelum menghisap aroma kafein, dan mabuk karena liukan kepulannya, setidaknya seteguk demi suatu kenikmatan

21 Juni 2013
Aku menyukai sore, temaram lembayung senja begitu kontras dengan warna hijau dedaunan yang mengkristal diterpa sinarnya.

21 Juni 2013
Setidaknya, aku meyakini bahwa mimpi yang bertahun-tahun bercokol akan segera terjembatani oleh sebuah usaha dan ketidak terdugaan.

21 Juni 2013
Aku mengendus udara malam, aroma rindu yang kental menyeruak ke rongga hidungku, akupun mencium nafasmu memburu temu.

21 Juni 2013
Langkah malam menjejak di celah-celah kamar, gulita pun meremang diterpa lampu yang bersinar membias di ujung retina.

21 Juni 2013
Malam pucat pasi, mega meRETAK berpenggalan lalu meruncing tersaput angin seolah ingin merobek dada buraikan isi di dalamnya.

21 Juni 2013
Si babi menarik uratnya sendiri tuk membelit dan mengacaukan jaringan nirkabel lalu menyendatnya oleh timbunan lemak di perutnya!

21 Juni 2013
Selamat malam antek-antek dunia maya, selamat tenggelam di laman penjerat manusia dan aku komoditas di dalamnya, well...tak bisa dipungkiri.

22 Juni 2013
Srikandi wanita perang, dan aku yakin, aku kuat, seberat apapun bongkahan batu yang mengganjal, aku pasti bisa melewatinya.

22 Juni 2013
Aku terjebak dalam labirin yang memaksaku berputar-putar di dalamnya, peluh pun mengeliat di dahiku; lelah

22 Juni 2013
Hidupku seperti di ujung pedang, jika saja aku tak bisa melakukan gerakan manuver, mungkin aku sudah tewas ditebasnya.

22 Juni 2013
Jadi suporter jangan terlalu berlebihan, toh pemainnya biasa-biasa saja, jangan jadi manusia berotak dangkal -sya netral;tak memihak siapapun

22 Juni 2013
Jika saja aku diberi kesempatan untuk melakukan afirmasi, yang ingin aku lakukan saat ini hanyalah ber-is-ti-ra-hat total!

22 Juni 2013
seperti mengumpulkan butiran rindu berhari-hari kemudian kau pecahkan oleh seonggok keras kepala, lalu berbuyar entah kemana.

22 Juni 2013
Malam minggu; senda gurau bayangan di balik pohon, suara lirih erangan, kesenangan atau kesakitan, mereka ramai -ntahlah.

22 Juni 2013
Malam menolak gelap, bulan bulat sempurna, sepi pun ramai bertamu, secangkir kopi mengajak bercengkrama hangatkan suasana.

22 Juni 2013
Sayangnya aku hanyalah seorang budak hamba sahaya, yang siap di serapahi petua perampas bahagia.

22 Juni 2013
Tuhan, mataku basah kuyup, bulu mataku rontok, lelah menopang air mata yang kini menjadi lelehan darah; tiadakan saja, ah aku.... -terisak

22 Juni 2013
tak ada lagu yang lebih lirih daripada nyanyian ego pada kenangan; menggumuli jutaan cemas yang telah usang

22 Juni 2013
prahara sering mencemari tanpa sengaja seperti menghisap polusi yang sama dan menjadi kebiasaan yang tak lazim, seharusnya.

23 Juni 2013
Egomu berdesak-desakan di pintu kamarku, enyahlah! Aku tak butuh itu, kembalilah nanti dengan rindu dan sepasang tanganmu.

23 Juni 2013
Setoples kudapan kecil dan segelas susu, cukup hangatkan hari minggu, warna nya biru lebam, mungkin mingguku tak kenal warna merah.

23 Juni 2013
Detak jantung berpacu hebat, sedetik kemudian terhenti. Ku kumpulkan sisa-sisa nafasku, mimpi buruk baru merenggutnya, aku takut Kanda -gemetar

24 Juni 2013
kehadiran yang tertunda, pelukanpun tersumbat, rindu ini terlalu egois.

24 Juni 2013
panas menyerang girang, pohon rinduku gugur berserak mencium tanah, kering kerontang sebelum senja, hancur melebur tersaput angin.

24 Juni 2013
panas mencuat rindupun mengeliat, panas-rindu ada korelasi diantara kedunya.

24 Juni 2013
Ada yg begitu lugas, ia mencari-cari temu di antara waktu yang menghimpit; rinduku.