Minggu, 13 Juli 2014 - 0 komentar

Cinta Untuk Anna



ANA menengok ke arah langit dari balik jendela kamarnya, langit mendung dan gelap, rintik gerimis nampak berjatuhan meski tak menimbulkan suara, ia mencoba meninggalkan kenyamanan di ruangan hangat itu, beranjak ke luar kamar, Ia ingin mempersiapkan pesta perpisahan di sekolahnya malam ini, sebelum Ia menjatuhkan kakinya ke anak tangga yang pertama, di ruangan lain Mr. Jovan dan Mrs. Lenita –kedua orang tua Anna- sedang berbincang mengenai Universitas yang akan Anna ambil. Anna sedikit mencuri obrolan kedua orang tuanya, Ia menggelengkan kepala, lalu melangkahkan kaki meniti anak tangga yang tersisa untuk menemui Daniel, adiknya.
“Bagaimana menurutmu kostum yang harus kaka gunakan malam ini?”, Tanya Anna pada adiknya, Anna tidak terbiasa memperhatikan penampilannya dan akhirnya memutuskan untuk mencari pendapat kepada adiknya yang satu tahun lebih muda darinya.
“Emm, mungkin dress akan lebih cocok, asal jangan terlalu sensual, rapi dan menarik saja cukup” ujar Daniel sambil menghabiskan setoples camilan dengan mata yang tertuju pada televisi.
“Anna, coba dress ini, pasti cukup dan cantik jika kamu memakainya”, tiba-tiba dari arah lain Ibunya berjalan kearahnya, seolah mengetahui perbincangan Kakak dan Adik tersebut, Dress hitam selutut dengan tempelan batu warna warni serupa permata di bagian leher tanpa kerah dengan pita yang melilit di bagian pinggang menyerupai belt, sederhana namun tidak menutupi aksen glamournya.
Anna mengerenyitkan keningnya, ada sedikit keraguan untuk mengenakanya.
“Apa tidak terlalu seksi, Mam?”, Anna memperhatikan setiap detail baju yang ditunjukan kepadanya, Ibunya mencoba menserasikan baju yang di pegangnya dengan bentuk tubuh Anna yang ramping.
“Dulu Mamamu cantik mnggunakan dress itu, Anna. Tidak salahnya kamu mencobanya dulu”. Ayah Anna membenarkan pendapat Ibunya, kali ini lagi-lagi Anna tidak bisa menolak permintaan Ayahnya, Anna berfikir sedikit berhemat jauh lebih baik daripada harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli dress baru.
Anna meninggalkan ruang keluarga untuk mencoba dress tersebut, Danil hanya berdelik ke arahnya, tidak yakin kakaknya akan mengenakan dress itu.
Di kamarnya, Anna berulang kali memperhatikan penampilannya di depan cermin.
“Cukup cantik”, gumamnya menyemangati diri sendiri kemudian keluar dari kamarnya untuk memperlihatkan tampilan barunya dengan dress yang dikenakannya pada keluarganya.
“Tadaaaa”, Anna menggerakan satu kakinya kebelakang, mencontohkan seorang princess yang sedang menunjukan kesantunannya, mereka terkesima.
“Sempurna”, puji Ayahnya. ***


BAGAIMANA menurutmu Hans?” Anna menunjukan penampilannya malam itu pada Hans, pacarnya, saat Hans menjemputnya untuk datang ke pesta perpisahan malam itu, cahaya bulan memantulkan sinarnya ke arah Anna, membuat batu-batu warna warni di bajunya berkilauan. Anna Nampak merona dan memesonakan Hans saat itu, namun bukanlah watak seorang Hans yang berani untuk memuji Anna, mengucapkan kalimat-kalimat romantispun ia tak pernah, Hans hanya bisa memendam keterpesonaannya di hati, keinginan untuk mengucapkan itu timbul tenggelam di benaknya sehingga tak sepatah ketapun bisa ia ucapkan, matanya hanya mengerejap sebentar lebih seperti kedutan, tak menampakan ketertarikan sama sekali.Hans tidak seperti pria lain yang sempat ada di kehidupan Anna, ia berbeda, dan Anna selalu menyembunyikan ketidaknyamanan yang samar, seolah hubungan yang mereka jalani hanyalan sebuah sandiwara, tidak realistis, Anna selalu mencoba untuk tetap baik dan mencintai Hans sesuai perasaannya.
“Bajumu terlalu ketat, terlalu sensual, terlalu terbuka”, Hans kemudian membuka suara saat pesta perpisahan itu berlangsung, meski Hans tak bisa memungkiri bahwa ia menyukai penampilan Anna malam itu.
“Oya, ini milik Ibuku, Hans. Aku tak membelinya”, Anna mencoba membela diri.
“Jadi, kemana kamu melanjutkan kuliahmu?”, Hans mengalihkan pembicaraannya, mengetahui bahwa Anna sudah tidak tertarik membicarakan soal pakaian yang dikenakannya.
“Ntahlah, yang pasti bukan ke luar Negeri seperti rencana Ayahku yang sebelumnya akan menguliahkanku di Adelaide”
“Baguslah, kita bisa sama-sama tetap disini meski tidak satu Universitas, lebih baik begitu daripada berjauhan, kecuali kamu memang bisa menjalankan hubungan ini secara long distance”, ada getaran gugup di suara Hans, seolah kata-kata itu mengalir begitu saja, dan itu disadari oleh Anna, Anna tau Hans sebelumnya tidak pernah menunjukan bahwa ia takut kehilangannya.
Anna mengelengkan kepalanya, ia tertegun dengan kata-kata Hans yang baru saja dia dengar, kata-kata itu seolah kabur dari pendengarannya setelah ia sadar suara bising dan musik lebih mendominasi di tempat itu.
“Tidak Hans, aku masih berharap bisa dekat denganmu, mungkin Universitas yang berbeda, namun aku harap kamu masih bisa menemuiku”.
Hans tidak merespon apa-apa, ia hanya berdehem pelan, Hans tau Anna memang selalu tulus kepadanya, walaupun sikapnya yang dingin terhadap Anna, Hans sebenarnya ingin seperti pria lain yang sering di singgung-singgung oleh Anna, sedikit bersahabat, namun kata-kata itu seolah tertahan di tenggorokannya, dua tahun Hans mencintai Anna dengan caranya sendiri.
Anna tersenyum getir, kemudian mencium pipi Hans lembut. ***


PAGI itu Anna terbangun, beberapa kali dikagetkan oleh bising suara kendaraan, suara klakson yang melengking kemudian melebur ke bunyi-bunyi selanjutnya, membuat Anna beberapa kali terperanjat sesekali menutup telinganya dengan bantal, cahaya matahari memantul dari arah jendela seolah memaksa masuk untuk bersarang di kamar Anna yang lembab namun tertahan oleh gorden yang belum sempat Anna buka
Akhirnya Anna menyerah, lagipula hari ini pertama ia masuk ke kampus barunya, ia memilih masuk ke Fakultas sastra yang sebelumnya ia debatkan dengan Ayahnya yang lebih menyukai Anna mengambil jurusan Hukum, berharap Anna mengikuti jejak Ayahnya menjadi seorang Lawyer, yang sibuk membantu penggugat maupun tergugat yang diangkat oleh Pengadilan Tinggi tertentu, namun Anna tidak menyukai pekerjaan Ayahnya yang sangat memiliki waktu sedikit untuk tidur.
“Semoga hari pertama masuk kuliah ini menyenangkan, Anna. Katakan pada Ayah jika kamu berubah fikiran untuk merubah keputusanmu mengambil jurusan hukum”, Mr. Jovan mengulang pembicaraan itu pada Anna yang sempat ia utarakan saat sarapan pagi tadi, kali ini Mr. jovan mengantar Anna ke kampus yang kebetulan  searah dengan kantornya.
“Ini pilihanku, Ayah. Aku menyukai sastra, ini duniaku, dan aku harap Ayah bisa menghargai keputusanku kali ini”
Mr. jovan tersenyum lebar, mengacak-acak rambut Anna dengan sebelah tangannya, dan tangan lainnya fokus menyetir, Anna hanya mendenguskan udara dari hidungnya, sedikit berat, bukan kerena ia berat mengambil keputusan, namun berat karena kali ini ia tidak bisa memenuhi keinginan Ayahnya, Mr. jovan pun sadar, anaknya sudah menjadi Anna yang beranjak dewasa, bukan Anna kecil lagi.
“Baiklah Ayah, terimakasih sudah mengantarku ke kampus hari ini, semoga pekerjaan Ayah menyenangkan hari ini”, Anna mencium tangan Ayahnya beranjak keluar dari mobil lalu menutup pintunya, ada seulas senyum ketika Anna melambaikan tangannya dari luar kemudian berlalu.
Sebentar lagi jam kuliah pertama dimulai, Anna mempercepat langkah kakinya, berharap dosen pertama yang ditemuinya tek seburuk guru matematikanya dulu, ia malas dengan hukuman yang akan diterimanya.
“Baik, selamat menjelang siang, perkenalkan saya Billy, asisten dosen wali kalian, kebetulan hari ini Mr. David tidak bisa masuk. Sebelum kita memulai mata kuliah pertama kita, ada baiknya kalian memperkenalkan diri masing-masing”
Kelaspun dimulai, Billy, ia dipilih menjadi salah satu asisten dosen termuda karena prestasinya di Universitas tersebut.
“Maaf, saya terlambat”
Anna mencoba mengikuti kelasnya yang baru saja dimulai, Billy menoleh kearahnya, tersenyum simpul, mempersilakan Anna bergabung pada mata kuliahnya.

“Kita baru saja akan saling memperkenalkan diri, namun karena ada teman kita yang terlambat, maka izinkan dia terlebih dahulu memperkenalkan diri, silakan”
Anna terkejut, ‘tenang Anna, ini hanya permulaan’, gumamnya menenangkan diri sendiri.
“Oke, nama saya Anna Belinda”
“Bukankah itu mudah Anna? kau tak perlu setegang itu, memperkenalkan diri hanyalah sesuatu yang biasa, bahkan anak SD pun mampu melakukannya, terimakasih Anna, silakan duduk”
Detak jantung Anna melompat mendengar perkataan Billy, ia berharap puluhan pasang telinga itu menjadi tuli, juga mata-mata mereka menjadi buta saat melihat ke arah wajah Anna yang memerah menahan malu bercampur kesal. Sepanjang pelajaran tak ada sedikitpun materi yang bisa ia serap, ia ingin mengisi paru-parunya dengan udara yang lebih segar dibanding berada diruangan itu.
‘Hari pertama yang menyebalkan, Mr. Billy, kesiangan, dipermalukan, apa lagi?!’ gerutunya, Anna melangkahkan kaki ke arah taman di samping kelasnya setelah pelajaran usai, mencoba mencari oksigen positif dibawah pohon yang rindang, setelah ia rasa nyaman dengan tempat duduknya, ia teringat pada Hans, sudah hamper tiga hari ia tidak bertemu dengannya. Anna menekan tombol handphonnya untuk menelepon Hans, beberapa hari terakhir ia hanya bisa mengabari lewat sms dan itu cukup membuatnya merasa lebih baik.
“Halo Hans, kau dengar?”, suara di seberang teleponnya terdengar hening sejenak.
“Ya Anna, ada apa?”, Hans terdengar sangat dingin dan cuek, dan Anna sudah bisa menebak mimik muka Hans saat itu.
“Eh, Hans…sudah tiga hari kita tidak bertemu, apa kau tidak merindukanku? Bagaimana kuliahmu? Kamu sudah punya teman baru?”
“Tidak, aku tidak merindukanmu”, terdengar suara tawa kecil Hans ditelepon Anna, Anna hanya membalasnya dengan tawa yang sedikit garing.
“Oya Anna, apa lusa kau tak ada jadwal kuliah?”
“Eh? Maksudnya Hans? Kau mau menemuiku?”, jawab Anna riang.
“Jika ada jadwal kuliah, sebaiknya jangan, awalnya aku ingin mengajakmu ke Singapura, ada acara prospek jurusan disana, ah ntahlah, mungkin hanya formalitas dosen-dosen yang ingin mengadakan tour wisata”, Anna tersenyum mendengan ajakan Hans, ia sungguh menyukai kejutan itu, Hans memang selelu begitu, tiba-tiba menyenangkan, tiba-tiba mengejutkan, walaupun itu jarang sekali Hans lakukan.
“Aku akan ikut Hans, baiklah aku akan menunggu kabarmu selanjutnya”, setelah perbincangan ringan, Anna menutup teleponnya.
“Ehmm, kau sibuk Anna?”.
Anna mencari asal suara yang baru saja menyapanya, ia terkejut, Anna mengenali orang itu. ***


MR. BILLY? sudah lama disana?”, Anna terperanjat, ia fikir mengapa Mr. bily tiba-tiba ada disana, setelah kejadian tadi apakah Mr. billy akan memngeroyok hari-hari Anna dengan peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan, Anna mendengus kesal.
“Iya, menurutmu?, Billy menghampirinya, duduk dibagian bangku yang kosong disebelahnya sambil meneguk sekaleng soft drink.
“Oh, ada apa Mr. Billy? Apa aku melakukan kesalahan?”, Tanya Anna tanpa menolehnya.
“Anna Belinda”, Billy menekankan ejaan nama Anna, meneguk sekali lagi soft drink nya.
“Sepertinya kau sangat tidak menyukaiku, begini Anna, jika kamu tidak menyukaiku, bagaimana bisa kau menyukai pelajaranku?”, Billy menoleh ke arah Anna yang masih tidak ingin menatapnya.
“Eh Anna, begini saja, anggap aku bukan dosenmu, anggap aja aku temanmu, kamu mungkin tidak menyukaiku, tapi aku harap kamu menyukai pelajaranku, bagaimana, kau menerima pertemananku?”, Billy mengulurkan tangan ke arahnya, berharap Anna membalas jabatannya itu.
“Baiklah”, Anna akhirnya menerima kesepakatan Billy, walaupun ia tidak yakin dengan cara itu ia bisa menyukai pelajarann Billy.
Billy tersenyum kearahnya, menanyakan seputar kegiatan Anna, hobby dan bagaimana bisa Anna mengambil jurusan sastra, Anna pun sedikit lebih baik menerimanya, ternyata Billy tidak seburuk yang Anna kira, ia begitu responsive, apalagi cara bicara Billy yang menyenangkan membuat ia tak bergeming menatap setiap gerakan kalimat-kalimat yang meluncur dari bibirnya, sesekali Anna tersenyum tipis, sejauh ini Billy menyenangkan.
“Jadi, tadi kamu sama sekali tidak mengikuti pelajaranku dengan baik?, Tanya Billy setelah Anna mengakui bahwa ia sangat sebal dengannya dikelas tadi.
“Iya, bagaimana bisa aku fokus sementara kau sudah seperti monster yang menyeramkan pentas dihadapanku”, jawab Anna seraya tertawa kecil.
“Ayolah Anna, aku bukan monster”, Billy menimpali dengan tawanya juga.
“Jadi, apa aku harus meminta kau untuk mengulang pelajaran tadi?, Anna bertanya sedikit serius.
“Tentu saja, besok malam aku akan menjadwalkannya, ini serius Anna, jangan berfikir aku mengajakmu kencan”, Billy menjawab sekenanya.
“Besok malam? Dimana?”
“Tentu saja di tempat yang cukup terang, bagaimana bisa kau mencatat seluruh materiku jika kita berada di tempat yang remang”
“Haha..kau benar, jadi dimana? Ini bukan kencan kan”,Anna mendelik nakal.
Cafe Coffee, bagaimana? Bukan, Anna Belinda, aku akan menjemputmu jam 7 malam”
“Baik Mr. Billy, aku harus masuk kelas, sebentar lagi ada mata kuliah selajutnya, Bye” Anna meninggalkan tempat itu sambil melambaikan tangannya, membiarkn Billy tersenyum sendiri. ***



ANNA terlihat sibuk malam itu, jam hamper menunjukan jam 7 malam, angin malampun cukup hangat, ia merasa beruntung malam ini cuaca bersahabat dengannya, kali ini Anna menggunakan kaus polos putih, diserasikan dengan jeans dan sepatu sketnya, ia pun mengikat rambut panjangnya, memastikan tak ada sehelaipun yang lolos dari ikatan.
            Tiba-tiba nada sms pada ponselnya bordering, Anna segera membuka pesan itu, berharap Biily sudah menunggunya di depan rumahnya.
            To        : Anna
            From : Hans
            Sibuk malam ini?
Anna sedikit terkejut menerima pesan itu, ia pun mengintip ke arah luar dari jendela kamarnya, memastikan Hans tidak ada berada di luar sana.
            To        : Hans
            From    : Anna
            Eh? Tidak, aku sedang mengerjakan tugas kuliahku, kamu sendiri? Bagaimana kuliahmu?

            To        : Anna
            From    : Hans
            Oh ya, selamat mengerjakan tugasmu, aku hanya ingin mengabari rencana ke Singapura besok , persiapkan diri, jaga kesehatanmu.
Anna menggelengkan kepalanya, ia tidak terlalu suka jika pertanyaan di pesannya tidak semua Hans jawab, dan itu sudah menjadi kebiasaan Hans.
            To        : Hans
            From    : Anna
            Baik Hans, kamu juga ya, I Miss u.
Anna mengklik tombol send sementara ia segera turun untuk menunggu Billy menjemputnya, hatinya masih gelisah membaca pesan dari Hans, ia sedikit membohongi Hans.
            To        : Anna
            From    : Mr. Billy
            Aku sudah berada di komplek rumahmu, bisa kau keluar agar aku tidak harus menebak-nebak rumah orang lain?
            ‘Ah, Billy’. Anna bergumam, ternyata Hans tidak menjawab pesan terakhirnya, Anna segera keluar setelah meminta izin kepada orang tuanya untuk belajar bersama teman-temannya.


“Hai Anna, lama menunggu?”, Billy berhenti di depannya, Anna pun mencondongkan kepalanya ke arah kaca mobil yang Billy turunkan.
            “Eh,Mr. Billy, baru saja”
            Ia membuka pintu mobil dan mendaratkan pantat nya di jok mobil sedan silver milik Billy.
            Sepanjang perjalanan Anna lebih banyak diam, mengotak atik ponselnya, menjawab pertanyaan-pertanyaan Billy seperlunya, Anna memang begitu sentimentil, mudah berubah-ubah perasaan hatinya.
            To        : Anna
            From : Hans
            Miss u too
Anna tersenyum membaca pesan Hans, resahnya melebur seketika.

ANNA memesan secangkir Cappuccino Late sedangkan Billy tetap pada Coffee Expresso nya yang biasa ia pesan.
            “Baik Anna, kita mulai materinya, seharusnya kamu membayar lebih untuk ini”, Billy mencoba menggoda Anna dengan candaannya.
            Really? Kalo gitu, lebih baik aku tidak ikut pelajaran tambahan ini”, Anna mendengus namun tidak tampak kesal.
            “Aku bercanda, Anna, baiklah apa yang kau ketahui tentang ilmu sastra? Baik, ilmu sastra yaitu ilmu yang mempelajari tentang sastra dengan berbagai permasalahannya. Di dalamnya tercakup teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra, dimana ketiga hal tersebut saling berkaitan”.
            Anna mencatat setiap pelajaran yang dikemukakan oleh Billy, kali ini ia tidak mau tertinggal materi di perkuliahan pertamanya, namun tiba-tiba saja kepala Anna terasa sakit, ia mencoba menstabilkan pandangannya, tulisan yang ia catat terasa kabur, seketika ia menopang kepalanya dengan satu tangan, melepaskan bolpoin yang sedang ia gunakan untuk menulis.
            “Anna, kau baik-baik saja?”, Billy mencoba menngintip dibalik jemari Anna yang menutupi sebagian wajahnya yang tertunduk.
            “Aku baik, hanya sedikit pusing”, Anna merasa matanya sangat panas, kepalanya seolah berputar, dan tiba-tiba saja darah segar keluar dari hidungnya, menetes pada buku catatannya.
            Billy terkesiap melihat keadaan Anna, Anna menutup hidungnya menatap Billy sayu, kemudian semuanya menjadi gelap. ***



BILLY masih berada di ruang perawatan Anna di sebuah Rumah Sakit, saat itu waktu sudah menunjukan pukul enam pagi, Mr. Jovan, Mrs. Lenita dan Daniel mereka juga berada di ruang rawat, mereka tidur di sofa, sedangkan Billy tertidur di kursi di samping tempat tidur Anna.
            “Apa yang terjadi pada kakakku?. Suara Daniel membangunkan Billy yang mencoba mengumpulkan nyawanya, ia merasa baru saja terbangun dari mimpi buruknya.
            “Apa?”, Billy mengerenyit, mengerjap-ngerjapkan matanya yang beru saja terbuka.
            “Dokter bilang ada kelainan anatomis pada otak kakakmu, Daniel, jangan salahkan Mr. Billy, kita beruntung Mr. Billy segera melarikan kakak mu ke Rumah Sakit”, Mr. jovan menengahi.
            Daniel kembali pada sofa nya sembari menghembuskan nafas berat, Billy hanya bisa menatap Anna, sesekali mengelus rambut Anna, berharap Anna bisa cepat terbangun dari tidur panjangnya.
            Anna mengalami koma.
            “Anna memang sering mengalami pendarahan pada hidungnya, dia juga sering pingsan”, Mrs. Lenita menambahkan, menenangkan hati Billy agar sedikit lebih baik, tidak terlalu menyalahkan dirinya.
            “Sudah lama?”, Tanya Billy.
            “Iya, sudah sangat lama, kami sering mendapat kabar dari sekolahnya terkadang pingsan atau mimisan, dan kami kira ini hanya karena Anna kelelahan atau terlalu lama berada di bawah terik matahari”.
            Billy tertegun, Ia mengusap wajahnya, seolah memendam perasaan bersalah teramat sangat. ***

SUDAH empat hari Anna di rawat, masih belum ada perubahan yang berarti, ia masih koma, dua hari kebelakang Anna sempat bisa menggerakan jarinya, namun pergerakan itu hanya beberapa saat saja, ia sangat merasa bertanggung jawab atas kejadian ini karena terakhir kali Anna dilarikan ke Rumah Sakit saat bersamanya.
            Hari itu rabu pagi, Billy selalu menyempatkan diri untuk menemani Anna di Rumah Sakit, bergantian dengan orangtua Anna untuk menjaganya, sesekali Billy melirik ke arah telepon genggam milik Anna, ada beberapa pesan yang belum sempat Anna buka, ia meraih telepon tersebut, dan tiba-tiba saja ponsel itu berdering, ia memperhatikan layar di ponsel itu
            Calling…..
            Hans
Beberapa kali ia tidak mengangkat telepon itu, namun setelah lima kali berdering, akhirnya Billy menyerah untuk mendaratkan ibu jarinya ke tombol telepon warna hijau.

“Anna, kamu dimana!!? Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya?!! Aku dari tadi mencari-carimu!” Hans berteriak dari seberang telepon, ada perasaan kesal yang baru saja ia lepaskan, seperti gelembung air yang sulit ia pecahkan, namun akhirnya pecah dengan sekali tangkap.
            “Mengapa kau mencari Anna?”
            “Siapa ini?”, Hans mencoba mencari tau siapa yang mengangkat telepon Anna, “Apa yang kau lakukan pada Anna? Dimana Anna? Jangan macam-macam!”, Hans menjawab dengan nada mengancam.
            “Apa mau kamu, Hans, Anna bersamaku, ia terbaring di Rumah Sakit, sudah empat hari Anna koma, kemana saja kau selama ini? Sampai baru menanyakan Anna sekarang, hah?!”, Billy menimpali, jantungnya seolah memukul-mukul tulang rusuknya, begitu marah sehingga wajah Billy memerah menahan marah, dan menelannya bulat-bulat sehingga tennggorokannya terasa berat.
            “Kau jangan bergurau!! Anna ada bersamaku tiga hari kebelakang, ia mengikuti tour ku ke Singapura, hanya baru  hari ini saja aku kehilangannya, cepat katakan pada Anna kita akan segera kembali ke Tanah Air!”
            “Haha..lucu kau Hans, jika tidak percaya datanglah kemari”, Billy menutup teleponnya.
            Brengsek!! Mana mungkin Anna tiba-tiba berada di Rumah Sakit!!”, Hans sibuk mengumpat dan tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar, “Siapa laki-laki tadi? Ah, sial, aku tak bisa mengenalinya”, ia pun berlari mengejar teman-temannya yang sudah berkumpul di Changi International Airport, sebentar lagi pesawat akan landing.

BILLY membuka pesan di ponsel Anna, ada beberapa pesan yang Hans tinggalkan di ponselnya.
            To        : Anna
            From    : Hans
            Kamu sudah siap Anna? Aku akan segera menjemputmu sekarang.
            Billy membuka detail pesan tersebut
            Sender :
            Hans
            Received
            06:23:05am
            14.02.2010

            To        : Anna
            From    : Hans
            Malam ini kamu tampak cantik Anna, selamat tidur, jangan tertawa :* :D
            Sender :
            Hans
            Received
            11:15:27pm
            15.02.2010

            To        : Anna
            From    : Hans
            Kamu dimana? Kita akan segera ke Airport Anna, pesawat akan segera landing!
            Sender :
            Hans
            Rceived
            10:37:10am
            16.02.2010
Billy tertegun membaca pesan tersebut, suasana saat itu terasa sunyi total, bahkan Billy merasa dirinya berada dalam sebuah ruangan hampa udara, begitu pengap, dingin dan lembab, ia hanya bisa mendengar jantungnya sendiri yang begitu kencang berdetak.
            Anna terperanjat.
            Detak jantung Anna bergerak cepat di monitor.
            “Anna!!!”, Billy menghidupkan alarm yang menyambung pada ruang kontroller perawat.
            Seketika Dokter dan perawat berhamburan ke arahnya.
            Billy melangkah ke luar ruangan, terduduk lesu di bangku-bangku koridor Rumah Sakit “Orangtua Anna! Ya, aku harus menelepon mereka!”, Billy segera menekan tombol telepon, menelepon keluarga Anna. ***

HANS berlari-lari menyusuri koridor Rumah Sakit, kakinya terasa berdenyut-denyut, hamper mati rasa, ia berdiri diantara bangku-bangku yang berjejer di koridor, menjatuhkan tas nya, mematung melihat Billy terduduk di kursi paling ujung dekat dengan ruangan Anna dirawat.
            “Billy!! Kau-“ Hans mengucapkan nama itu dengan berat sebelum akhirnya setengah berlari menghampiri Billy yang menengok ke arah suara Hans, tangan Hans refleks meluncur ke arah kerah baju Billy, memaksanya untuk bangun dari tempat duduknya, Billy terperanjat mengangkat kedua tangannya.
            “Apa yang kau lakukan disini!! Apa yang kau lakukan pada Anna!!?”, suara Hans keluar dengan parau.
            “lepaskan tanganmu Hans!!”, jawab Billy menahan marah, Hans melepaskan cengkraman tangannya, mendorong dada Billy ketempat duduknya semula.

“Haha..”, Billy tertawa geram, “Kita bertemu lagi Hans!”, senyum sinis tersungging di bibir Billy.
            “Apa yang terjadi pada Anna? Katakan padaku, Bajingan!”
            “Kemana kau selama ini?”, Tanya Billy.
            “Apa urusanmu? Jawab pertanyaanku!”
            “Hans, ingat tiga tahun yang lalu? Kau sendiri bukan yang membuat peraturan, saat perlombaan puisi yang diadakan di kampusku, kau bukan yang mengajakku bertaruh untuk mendapatkan Anna, dan sayangnya aku kalah, kau lebih intens bertemu dengan Anna di sekolah, kau menang, tapi apa pedulimu pada Anna? Itu hanya sebuah pertaruhan, bukan? Kau tak pernah benar-benar mencintainya, lalu apa pedulimu pada Anna? Ia akan segera kudapatkan, Hans”
            Brengsek!! Apa yang kau ketahui tentang aku dan Anna?! Jika aku tidak mencintainya, mana mungkin aku bertahan hingga dua tahun dengannya”.
            “Hahaha..katakan itu hanya alasanmu membela diri, kau hanya mengasihaninya, bukan?”, Billy berkata dengan suara tertahan, membuat Hans terkesiap mendengarnya.
            Ia sadar, Anna hanyalah seseorang yang ia menangkan dari pertaruhannya dengan Billy tiga tahun yang lalu, tapi itu dulu, dan selama dua tahun berlalu, Hans merasa Anna tulus mencintainya meskipun Hans masih harus belajar peduli pada Anna, kebersamaannya dengan Anna membuat Hans tidak bisa melepaskan Anna begitu saja, dan semua ini serasa menjadi boomerang untuk dirinya
            “Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, Billy. Katakana padaku, apa yang terjadi pada Anna?”
            “Ada kelainan anatomis pada otak Anna, lucu sekali, kau pacarnyapun tidak mengetahui keadaanya”
Hans menggeram, jemarinya mengepal menahan marah, berharap Billy adalah seonggok patung yang bisa ia hancurkan berkeping-keping, “Anna ada bersamaku beberapa hari kebelakang, ia ikut tour di kampusku, ini sulit dipercaya, jika kau tak percaya, aku punya buktinya!”, Hans merogoh tasnya, membawa sebuah foto digital, membuka folder foto-fotonya kemudian memperlihatkannya pada Billy.
            “I..ini tidak mungkin”, Billy terbata, kaget melihat beberapa foto Hans bersama Anna, Anna tersenyum manis meski terlihat sedikit pucat pasi di foto itu, “Bagaimana ini bisa terjadi, Hans?”
            “Ntahlah”, Hans menjawab datar.
Ruangan itu tiba-tiba terasa teramat dingin, suhu udara berubah menjadi nol derajat celcius, membuat bulu kuduk mereka merinding, hati mereka masing-masing menafsirkan apa yang sebenarnya terjadi, mereka terdiam, Hans merasa lututnya sangat lemas, ia berfikir jika Anna minggu ini berada di Rumah Sakit, maka siapa yang berada dengannya, ia merasa sangat sehat : begitu nyata, bahwa wanita yang bersamanya di Singapura itu Anna.

“Mr. Billy, ah..Kak Hans, kemana saja?”, tiba-tiba Daniel menghampiri mereka berdua, “Kak Anna keadaannya sudah stabil”.
Billy dan Hans beranjak dari tempatnya duduk, mereka menghampiri ruangan Anna, Hans memeluk Anna yang masih berbaring, merasa semua kekuatannya kembali pulih, merasakan detak jantung Anna, mencium kening Anna yang belum bisa bergerak.
            “Anna bangun, aku Hans, kau bisa merasakanku, bukan? Anna, aku mohon maafkan aku”.
            Billy sendiri hanya bisa mematung di dekat pintu menyaksikan kejadian itu, ia tersenyum getir, ia sadar Hans sudah tidak main-main lagi.
            “Hans…”, Anna membuka mulutnya, mengucapkan nama Hans dengan sangat pelan, hampir tidak terdengar, jari-jarinya bergerak.
            “Anna..Anna.., kau bangun?!”
Anna tersenyum tipis, Billy pun meninggalkan ruangan itu, ia bahagia melihat Anna terbangun dari tidur panjangnya. ***

Singapura, February 14th , 2010.
03:30pm
Aku berada di Patung Merlion bersama Anna, pertama kalinya aku merasa takut kehilangan Anna.
05:45pm
Kami menikmati sore di Gardens By The Way, Anna terlihat begitu pendiam, sangat hangat, dan sangat cantik.
09.45pm
Di Orchard road, aku membelikannya sekuntum mawar putih hadiah Valentine, lucu.

Singapura, February 15th , 2010
02:56pm
Jalan-jalan di Sentosa Island, lagi-lagi Anna sangat cantik, ia begitu manja, ya, Anna selalu seperti itu.
08:00pm
Dinner with Anna, dia menggunakan dress putih, sama cantiknya ketika malam pesta perpisahan di SMA, kedua kalinya aku benar-benar mengaguminya.
11:59pm
Baru saja aku jujur padanya bahwa dia cantik, hahaha semoga dia tidak kaget.



ANNA, aku menyesal selama ini menyia-nyiakanmu, memperlakukanmu bukan seperti pasanganku sendiri, aku mencintaimu Anna meski aku tidak pernah menunjukannya,
Sebuah puisi karya Chairil Anwar untukmu, Anna Belinda:

SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...

HANS menutup buku catatannya, menyelipkan foto-foto Anna bersamanya ketika di Singapura, kemudian memberikannya pada Anna sebagai kado Valentine, juga mawar putih yang sengaja Hans beli untuk Anna, ia yakin cintanya seputih mawar yang ia berikan pada Anna.
            Dokter bilang, ia tidak bisa menebak seberapa lama lagi Anna bertahan, namun selama Anna bernafas, selama itu pula ia akan melakukan yang terbaik untuknya, Hans menyadari, ia merasa sangat kehilangan saat sesuatu yang ia cintai itu pergi, dan ia berjanji ingin menghabiskan cinta putihnya untuk Anna, hingga maut memisahkan.





Jumat, 07 Maret 2014 - 0 komentar

Kelopak Sakura Layu di Wadah Bento

Tokyo, 2010

Kita kehabisan nafas untuk saling bercengkrama tentag sunset di atas gedung Kota Yokohama
ataupun ber-Hanami bersama menghabiskan bento pada musim sakura di taman Shensinan Kyoto.
Tiba-tiba saja setangkup kenang masih kita bawa dikepala masing-masing
lantas kau hilang di persimpangan jalan
seumpama kelopak sakura yang putus asa
terhuyung-huyung jatuh pada tanah basah
: dan aku tak memungutinya, tak mencarimu lagi.

Majalengka, 2011

Sudah satu tahun, kau tetap muncul di setiap bayang-bayang semu yang selalu ku coba untuk menutupnya
kita sudah berlainan; tanpa pesan
aku sudah nyeri
maaf, ku abaikan kau berkali-kali

Majalengka, 2012

Ah... apa maumu?
Telingaku tuli mendengarmu kembali
begitu pula mataku, ia sudah buta melihat wajahmu
akupun sudah asik dengan sajak yang ku guratkan di tubuh lain
setelah beberapa bait haiku yang ku ciptakan untukmu kau basuh dengan air hujan di senja Tokyo musim lalu
hingga tintanya menggenang di mata kaki
sajak-sajak ku kini rampung di sekujur tubuh pria lain
setiap kali ku membacanya, tiap kali pula aku kehilangan ingatan tentangmu
jadi, apa lagi yang kau tunggu?
aku benar-benar sudah lupa

Majalengka, 2013

Aku lebih banyak lupa
dan kau, masih menarik-narik memori agar aku menoleh kearahnya
seharusnya kau tau; kuncup sakura sedang mekar di pohon yang lain.

Majalengka, 2014

Malam hanya seutas sepi yang bergelantungan di wajah-wajah buram
hanya tarian dari kepulan teh hijau hangat pada cangkir yang retak di bibirnya
mungkin, sunyi begitu meronta-ronta di dadaku
setelah akhir tahun lalu sajak-sajak ku padam
larut bersama musim hujan yang meriuh
hasilkan telaga aksara yang acak.
Kau datang legi,
begitu rutinnya, hingga aku bosan mengenalmu sebagai seseorang yang tak asing lagi.

: baiklah, aku menyerah, Koichi...
apa yang ingin kau sampaikan?

lantas kau menjawab : "Putuskan Aku"

Seranum sakura melintas di penciuman
ku buka wadah bento empat tahun lalu
lembaran kelopak layu tertinggal disana
pergilah...
maaf, aku lupa membuangnya.
- 0 komentar

[Hampir] Patah Hati

Masih tentang kamu, Zy...
hampir tiga pekan aku mengenalmu
dan tiga kali pula ku tengok almanak di dinding kamar dengan tanggal-tanggal hitamnya yang semakin menua
sejak temu singkat dibawah langit jingga lalu
sudah setengah laman kutulis sajak tentang dirimu
sampai akhirnya kutau,
setiap kata yang kutulis hanyalah menjadi gerimis yang jatuh di telapak tanganku
lalu lenyap menguap di lesung langit
menjadi pelangi yang hanya bisa ku lihat sendiri

Malam kedua stelah pertemuan itu
langi sunyi terlecut kabut malam kalut
suaramu menjadi desas desis angin dingin ditelingaku
kita bicara seakan lidah kita kaku
masing-masing memaknai kata yang terucap kelu
sesekali menelan udara resah yang melesap pada keheningan yang semakin membeku
suaraku tertohok di tenggorokan saat rindu terkibas menjadi sendu

Dan kau, Zy...
Hanya bisa menghitung gerakan dada dari setiap nafas yang ku hembus percuma; sajak-sajakku telah kehilangan separuh tentang dirimu.
Aku tak pernah bosan mempertahanken hangat dirimu di sekat jantungku, namun katamu ini hanya rasa yang mengganggu; kau ucap lirih seumpama lagu kematian di ujung pelepasan
lantas kita saling terdiam, dan begitu terasing

Tak apalah, Zy...
Setidaknya kita pernah sama-sama menahan rasa rindu,
walaupun pada akhirnya tak melulu menggebu
saat sisa-sisa temu hanya menjadi remang-remang lampu.
- 0 komentar

Segelas Hujan

Aku pernah berjanji menuliskan sesuatu untukmu, Zy
setelah sepekan kita saling menuliskan sajak di langit biru tua
ya...hampir tiap hari.
Sampai akhirnya ada temu di setiap rindu yang sempat berjejelan dikepala kita

Tak disangka ya, Zy.
ternyata tak ada gugup hingga waktu menguning
bahkan senja menyaksikan deraian tawa renyah seumpama suara reranting patah.
juga hati kita yang rusuh di gelas kopi,
menutup kesunyian dibalik riuhnya hujan seadanya.
lalu kau memainkan alat musik bambu dengan senar tali pancing kesayanganmu
lantas kata-kata berloncatan dari bibirmu
menambah gemuruh jantungku semakin tak beraturan
sesekali senja membuat kita mencuri hangat pada jemari kita yang terkesan malu untuk saling berpagut.

Detik jam terasa semakin cepat
langit sudah berubah warna
siluet cahaya jingga kau endapkan di matamu
hingga tak kuasa aku menoleh kearahmu,
aku hanya takut, Zy...
takut setiap kali aku mengingatnya, aku akan gelisah dirasuki bayang-bayang bening matamu
kau ingat, Zy...
sepasang tanganku yang melingkar di pinggangmu?
dan anehnya aku merasa betah menikmati gigil dingin yang merangkaki udara seusai hujan.

Saat langit berubah keabu-abuan
kita berjalan beriringan mencipta tapak kenangan yang mungkin kelak bisa kita bagikan
banyak kata yang tak bisa diucapkan,
juga rasa yang tak bisa di ungkapkan.
Aku hanya ingin menjadi bagian dari setiap tombakan hujan, dedak di kopimu, atau lirik di setiap lagu yang kau ciptakan.
Aku wanita peramu kata, sedangkan kau lelaki pecinta suara,
barangkali kau akan menemukanku diantara rindu-rindumu yang tersasar; kelak,
atau mungkin akan hanya menjadi kenangan yang karam di ingatanmu
Seumpama lembaran-lembaran sajak yang kehilangan aksaranya

Minggu, 02 Februari 2014 - 0 komentar

Antologi Puisi 4 [oleh : Cj Levi]



HENING

Hening...
Tik tak tik tak
Jam berdetak
Grasak grusuk
Tikus tikus lubangi kardus
Krik krik
Jangkrik berderik

Hening...
Angin sepoi
Langit gemintang kerlap kerlip
Bulan bulat seputih susu menggantung anggun di angkasa
Malaikat bertebaran kunjungi jemari lentik yang berdzikir
Pancarkan cahaya dari tangan yang tengadah

Hening...
Mata terkantuk kantuk
Lelah meringkus, terbaring pada punggung yang mulai renta
Setiap nafas adalah doa
Sebelum mata terpejam menagih kematian
Sambut esok hari yang mungkin saja
Hening, selamanya.

PANAH SRIKANDI

Panah Srikandi menjunjung tinggi ke angkasa
Menantang Bisma relakan jantung dipanah busur
Samar samar Bisma tatap molek Amba
Tergolek lesu mencecap aroma bunga padma

Oo... Srikandi
Bunga tumbuh dari genangan darah Kurusetra
Wanita perang molek nan perkasa
Nanar Bisma terpesona
Sang Mahawira linglung dimabuk jiwanya
Hikayat hanyalah menjadi memoria
Robohlah Bisma terhempas ke tanah

Oo... Mahawira jagat pewayangan
Kini benar benar tak berdaya
Ribuan panah Srikandi menancap tubuhnya
Jatuhlah bulir bulir air dipucuk matanya
“Maafkan aku Amba”
Ucap Bisma lirih tak berdaya.


SECANGKIR KOPI MALAM

Berselimut cangkir keramik bertuliskan “Coffee”
Sang penari balet meliuk liuk dari kepulan yang bertengger dikepalanya
Terkadang membentuk kata kata serupa bait bait aksara
Dari sebaris cahaya temaram lampu malam
Atau pada gigil pagi dari dekapan jemari.

Satu cangkir penenang
Satu cangkir hilangkan kantuk
Satu cangkir sejuta kenangan

Denting sendok leburkan pahit
Gula gula berpelukan menjadi kisah manis yang romantis
Ramalkan nasib pada ampas didasar cangkir
Harapkan cemas hilang tandas.


KEPADA ANAK KECIL BERKAKI KECIL

Kaki kaki kecil berlari lari kecil
Menentang buku leces berwarna ungu

Seragam putih ke kuning kuningan
Beralas capit dengan simpul rapia di ujungnya

Anak kecil berparas mungil
Bulan sabit melengkung di bibirnya

Bersuka-ria hanya dengan mewahnya udara yang di hirupnya
Warna warni dunia tergambar pada selaput pelangi di matanya

Indonesia sudah Merdeka anakku
Hidupmu yang carut, kau tak pernah cemberut

Sampai kapan kau terpasung di tengah mewahnya kekuasaan modern?
Sampai kapan keringatmu menafkahi dirimu sendiri?
Lantas, siapa yang peduli?


SESAL DIRI


I/
Malam gelisah
Sinar bulan brjuang menembus liang liang jendela ; berupaya mengintip
Bohlam lima watt sinari tubuh tubuh telanjang
Sepasang insan terlihat abstrak diantara remang lampu
Rambut kusut jatuh membentuk spiral di punggung penuh peluh
Adrenalin membanjiri pembuluh darah
Memcecerkan bulir bulir basah
Dengan wangi menyenangkan
Benih tertanam sempurna

II/
Celaka
Perut membuncah, ada nafas baru di dalamnya
Janin yang tak berdosa mengintip dunia dari liang pusar induknya
Janji setia hanya menjadi tugu kenangan
Yang rapuh ditinggal waktu yang membusuk
Suara kecil terngiang di telinga sang puan
“Dimana Ayahku, Bu?”
Sang puan menjerit tertahan; “Maafkan aku Tuhan!”


NASIB HAMBA SAHAYA

Bu...
Jangan rindu ya,
Rindumu menyayat kalbu
Aku disini baik
Meski panas setrika sempat menembus jantung
Anggap saja itu tatoo terindah yang pernah dibuat

Peluhku berubah darah, Bu..
Tapi aku baik
Darah ini dicampur jus tomat
Rasanya manis campur nyinyir

Punggungku alas kaki, Bu..
Setidaknya sepatu mahal, kulit buaya, kulit unta atau kulit ular berbisa
Membekaskan kelopak bunga anyelir berbentuk tinjuan merah jambu

Aku baik, Bu..

Ranjangku megah
Aku tidur bersama anjing anjing kesayangannya
Terkadang mereka menari diantara gigil dan gemeretak gigiku
Yang mereka anggap sebagai kolaborasi suara musik acapella

Aku pasti pulang, Bu..
Jangan dulu mencari lahan kosong untuk pembaringanku
Kamar pengantin masih menantiku.


SEPUCUK PESAN KEHILANGAN

Sayang,
bagaimana mengucapkannya
Dingin kali ini melumerkan keberanianku
Ia membendung di tenggorokanku
Suaraku tetiba kering, sulit memulainya.

Sebaiknya,
Pulanglah pada ruh cintamu
Aku hanyalah tulang rusuk
yang memaksa masuk di sekat sekat dadamu
aku tau, sebenarnya bukan aku nafas yang kau hembus
aku tau semuanya, sayang.

Namun salahkah jika selama ini aku berlaku dungu?
Ketika sepasang tanganmu bukan untukku
Atau jari manismu yang sudah terlingkar janji
Yang setiap kali mendesis desis seperti medusa
dan berusaha membekukan tubuhku
saat kau lingkarkan tanganmu di pinggangku

aku menyayangimu,
namun aku bukan dia.

Parau tangisku menentang nestapa
Namun biarkan aku tersenyum bahagia
Pada luka yang menganga.


PADA MALAIKAT BERHATI BANGSAT

Gigi gemeretak
Anjing anjing liar menyalak galak
Sang iblis bertengger di kepalanya
Panas membakar, membuncahkan isi kepala
Kidung malam menyayat nyayat isi dada
Telantarkan saja aku menjadi budak hamba sahaya !
Tampar pipi ku biarkan darah mengalir dari mulutku
Dan sesap oleh nafsumu yang membuncah
Robek dadaku buraikan isi di dalamnya
Lempar pada anjing liar yang kelaparan
Semangatku luntur, Tuan
Kau hancurkan segala harap menjadi siksa yang menderap
Ikostensimu berlebihan, bias munafik tertata apik
Mulut manismu terkontaminasi ampedu
Dengan rasa pahit yang paling pahit
Sesalpun percuma
Aku hanya sang puan
Yang buta melihat malaikat berhati bangsat


CERITA RINDU PADA SENJA

Matahari mendadak hilang
Ntah apa yang menelannya
Sekejap ia melesat bertransfortasi menjadi cahaya jingga
Mengantarku pada senja yang berwarna

Sore yang sempurna
Siluet jingga mengalir masuk ke beranda
Pantulkan cahaya yang mengkristal
Dari secangkir kopi diatas meja
Kepulannya turut gerak dengan rindu
Yang berburai

Aku tenggelam diterbangkan angan
Kenangan menyusup di setiap tegukan
Melanglang pada waktu yang kutunggu
Untuk besok bertemu denganmu
Menghapus jemu.


AKU PENYIAR BUKAN PENYAIR APALAGI PENYIHIR

Kata kata meluncur dari lidahku
Bermain main dengan intuisi dan imajinasi
Mengukir sebuah aksara menjadi tema yang ceria
Biar suara saja yang kau dengar, jangan hatiku apalagi wajahku
Nikmati saja setiap kata yang kutitip pada bunyi
Tapi ingat,
Aku penyiar, bukan penyair

Ku racik semua sendu kedalam senandung rindu
Mengikis segala hasrat yang tersirat dalam benak
Menyihir waktu menjadi lagu
Menghipnotis suaraku
menjadi bayangan perempuan lugu
Tapi sekali lagi ingat
Aku penyiar, bukan penyihir.

Temanku hanyalah mikrofon, mixer dan perangkat audio
Yang terbiasa denganku,d engan suaraku, bahkan dengan tangisanku
yang menginterupsi dibalik lantunan lantunan
Isakan bukanlah alibi untuk tak bahagia
Karena aku penyiar
Perempuan gila yang bermain main dengan intuisinya
Di ruangan kedap suara berlabel “ON AIR”
Jumat, 31 Januari 2014 - 0 komentar

Elegi Kehilangan



Hari ini aku diam-diam mencarimu lagi, ada sebuah ledakan di dadaku yang membuatku belum terbiasa melepasnya, jika tiap hari rindu itu datang meski emosi mengkotaminasi, kali ini rindu itu datang dengan rasa pedih, sakit, sepi, kehilangan kebiasaan yang menjauhkanku dari ruhmu.

Aku sengaja datang lagi, menghentak kaki pada jejak-jejak yng sudah tercipta sebelumnya, berjalan diatas trotoar yang sudah berpuluh kali ku lewati. Namun kali ini benakku penuh dengan ketidaktenangan, seluruh hasratku tumpah dari setiap langkah demi langkah, aku hanya mengikuti raungan-raungan hati yang tetiba mengajakku ke arah sana, kembali berjalan di lorong-lorong sempit, acapkali berpapasan dengan kucing kampung dengan mata yang menyorot ke arahku seolah mencaci maki tak ada rasa malu aku kembali berjalan pada alur ini.

Aku hanya merasa mabuk, aku butuh canduku untuk ku tumpahkan di dada ini, kemudian pintu gerbang itu ku buka, pelan sekali agar gesekan besi yang telah aus itu tidak menimbulkan bunyi, nafasku menyempit, jantungku berdetak kencang, dan satu yang ku inginkan "Aku Ingin Memelukmu" meluapkan gelisah yang menjelma menjadi sesak.
Kunaiki anak tangga satu emi satu, berharap di sisa tangga aku bisa menemukanmu.

Namun...
Kali ini jantungku hangus, semuanya mati rasa, kau tak bisa ku temukan, mungkin waktu sedang tak berpihak padaku dan aku sudah lupa bahwa kita telah berlainan.
Kamis, 16 Januari 2014 - 0 komentar

Mimpi jadi kenyataan




Tahun 2013 ini saya buktikan bahwa saya bisa jadi penulis hehehhe, jangan lupa di order yaa ^^
sekali lagi saya bilang "SEMUANYA BERAWAL DARI MIMPI"

Judul : Bara Dalam Sekam
Tebal: 141
Penerbit: 2A Dream Publishing
ISBN: 978-602-1649-16-9
Harga:Rp. 40.000,- (belum ongkir)
Penulis:
1. @bayangan_malam
2. @jingga_sang
3. @cj_levi
4. @kimalghozali
5. @heriania_nay
6. @mahdi_ns
7. @ririesristia
8. @hanya_taufik
9. @bait_puisi
10. @yuliametha
11. @ginamahdian

Ini adalah buku antologi @bait_puisi yang ke 4. Di dalamnya ada puisi cinta, politik, kemarahan, kerinduan, kekecewaan, dll. Semuanya menarik untuk dinikmati.

Berminat?
Sila order via sms ke 08567257051 atau email ke anungdel1627@gmail.com

dengan format Bara Dalam Sekam - Jumlah - Nama Lengkap - alamat lengkap - kode pos - no hp.

Trims.

dikutip dari blognya >> http://baitpuisi.pun.bz/antologi-4.xhtml